H-1B Visa Disebut Scam, Kongres AS Dorong Penghapusan demi Pekerja Tech Lokal

Business9 Views

Dalam beberapa waktu terakhir, program visa H-1B kembali menjadi sorotan di kalangan politisi Amerika Serikat. Seorang anggota Kongres dari West Virginia, Rep. Riley Moore, secara terang-terangan menyebut program ini sebagai scam yang merugikan pekerja lokal, khususnya di sektor teknologi. Menurutnya, visa yang seharusnya membantu perusahaan merekrut talenta asing justru sering digunakan untuk menggantikan pekerja Amerika dengan tenaga kerja dari luar negeri yang lebih murah.

H-1B sendiri merupakan program visa kerja yang ditujukan untuk posisi spesialis atau keahlian tinggi, termasuk software engineer, data scientist, dan developer di perusahaan tech. Banyak perusahaan besar di Silicon Valley yang memanfaatkannya untuk mendatangkan talenta dari India, China, atau negara lain. Namun kritik yang muncul adalah bahwa program ini kerap dimanfaatkan untuk menekan upah dan mengurangi kesempatan bagi lulusan universitas lokal.

Rep. Riley Moore mengungkapkan bahwa dukungan dari kalangan Republik untuk menghapus program ini semakin menguat. Banyak anggota partai yang melihat H-1B sudah tidak lagi sesuai dengan tujuan awalnya, yaitu mendatangkan keahlian yang benar-benar langka di Amerika. Sebaliknya, program ini dianggap menciptakan persaingan tidak sehat di pasar kerja tech.

Salah satu konteks penting yang perlu diperhatikan adalah bagaimana H-1B selama ini banyak digunakan oleh perusahaan outsourcing besar asal India yang mengirimkan pekerja mereka ke proyek-proyek di AS. Hal ini membuat beberapa posisi entry-level atau menengah di bidang pemrograman justru diisi oleh tenaga asing, bukan lulusan kampus Amerika yang sedang mencari pekerjaan pertama.

Dampak lain yang muncul adalah tekanan pada startup dan perusahaan tech menengah. Jika program ini benar-benar dihapus, mereka mungkin harus lebih agresif merekrut dan melatih tenaga lokal, atau memindahkan sebagian operasi pengembangan ke luar negeri. Beberapa analis melihat ini bisa mendorong perusahaan untuk berinvestasi lebih besar pada program pelatihan coding dan bootcamp di dalam negeri.

Di sisi lain, pendukung H-1B berargumen bahwa talenta global tetap dibutuhkan karena kecepatan inovasi di industri teknologi. Banyak produk dan layanan yang kita pakai sehari-hari, mulai dari aplikasi mobile hingga infrastruktur cloud, lahir dari tim yang terdiri dari berbagai kebangsaan. Namun tekanan politik saat ini tampaknya lebih condong ke arah perlindungan pekerja domestik.

Moore sendiri menyatakan bahwa semakin banyak anggota Kongres yang mulai mendengar keluhan dari konstituen mereka yang bekerja di bidang tech dan merasa tersisih. Perdebatan ini kemungkinan akan terus berlanjut di sesi legislatif berikutnya, terutama menjelang pemilu.

Bagi komunitas tech di Amerika, hasil akhir dari dorongan penghapusan H-1B ini akan sangat menentukan arah perekrutan di tahun-tahun mendatang. Apakah perusahaan akan lebih fokus membangun talenta lokal atau justru mencari cara lain untuk mendapatkan keahlian yang dibutuhkan.